
Jarang sekali ada debat capres yang memuaskan. Bahkan di negeri Paman Sam, debat capres sering dikritik karena terlalu hambar. Di sana, debat yang monumental bisa dihitung dengan jari. Kita memang selalu terjebak dalam delivery, tepatnya kita mendambakan debat yang mengelegar, tajam, dan juga—terkadang—sesat.
Tapi delivery selalu mengaburkan konten. Delivery hanya bungkus, yang harus dicermati pemilih adalah isinya. Dari esensi argumentasi kita bisa mengetahui bagaimana capres melihat permasalahan. Langkah-langkah yang mereka tawarkan otomatis menunjukkan pemahamannya atas kompleksitas tiap masalah sekaligus sejauh mana mereka telah berpikir untuk menyelesaikan permasalahan itu sendiri.
Dan malam itu, Megawati nampak gugup. Ia terdengar seperti tidak siap karena sering menghabiskan jeda 1-2 detik tiap akan menjawab pertanyaan. Di tengah pidato nadanya semakin tinggi, seolah tidak nyaman dengan perkataannya sendiri. Argumentasi Mega, walaupun cukup banyak mengidentifikasi masalah, tapi nihil solusi. Contoh-contoh kasus yang tidak tepat—seperti masalah KTP dan pengendara motor yang tidak pakai helm—memberikan kesan kurangnya pengetahuan dan pola pikir sistemik yang wajib dimiliki seorang pemimpin.
SBY tampil lumayan. Ia memang tidak menjanjikan sesuatu yang “wah”, tetapi SBY mampu melihat permasalahan secara menyeluruh dan menyajikan solusi yang cukup sistemik. Programnya agak lemah ketika membahas TKI, tapi bagus ketika menyentuh alutista TNI dan lumayan untuk HAM.
JK bisa dibilang mengecewakan, karena ekspektasi kita memang sangat tinggi untuk sosok lincah ini. Ia terdengar kelabakan dan tidak siap ketika memaparkan visinya tentang good governance dan HAM. Solusinya untuk masalah kenegaraaan menunjukkan lemahnya pengetahuan JK tentang gagasan bernegara. Akan tetapi, JK menjanjikan sebuah konsep yang menarik ketika membahas penyelesaian atas masalah TKI.
Walaupun saya berniat mereview konten debat capres tadi malam, tapi dengan segala maaf saya bener-benar tidak tahu berkata apa untuk Mega. Argumentasinya yang sama sekali tidak jelas, memunculkan keraguan apakah Ibu yang satu ini memiliki visi untuk negara ini.
SBY dan JK muncul sebagai pemenang malam itu, walaupun penampilan mereka tidak spektakuler. SBY menunjukkan kapabilitasnya sebagai seorang pemimpin yang melihat permasalahan secara makro, tetapi kurang mengeri permasalahan pada skala mikro. JK justru sebaliknya, ia seperti tidak paham konsep-konsep bernegara, tetapi juara ketika membahas isu-isu yang dekat dengan keseharian kita.
Keduanya memang seperti kombinasi yang ideal dan saling melengkapi. Tapi kita semua tahu kombinasi SBY-JK tidak akan bisa jalan mulus.
Sumber : http://hermansaksono.com/2009/06/review-debat-capres-putaran-1.html