Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Solo Batik Carnival 2 Digelar 26-28 Juni 2009

April 20, 2009 by Republik Batik

Solo Batik Carnival (SBC) yang memasuki tahun kedua akan digelar 26-28 Juni mendatang dengan puncak pada 28 Juni 2009. Ajang SBC 2 yang masih akan dikomandani oleh Dynand Fariz yang juga Presiden Jember Fashion Carnival ini akan menampilkan tema topeng . Tahun lalu bertema wayang.


Calon peserta Solo Batik Carnival (SBC) mempresentasikan kostum di Pendapi Gedhe Balaikota Solo, Jawa Tengah, Rabu (9/4). Presentasi tersebut sekaligus menjadi penentuan apakah mereka lolos menjadi peserta SBC yang akan dilaksanakan pada 13 April mendatang di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Presentasi pertama dari beberapa peserta yang akan tampil dinilai masih belum memberikan kejutan, baik dari segi kostum, gerakan, maupun musik. Penilaian diberikan oleh para hadirin yang datang ke Taman Balekambang untuk menyaksikan presentasi, seperti Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Purnomo Subagyo, disainer, sponsor, hingga Wali Kota Solo Joko Widodo yang menyempatkan berkunjung, Minggu (11/1).

“SBC 2 harus mengalami perubahan tanpa mengurangi batiknya. Misalnya dari segi kostum, harus tampak berubah dari segi volum, inovasi, kreativitas, orisinalitas, dan daya pakainya. SBC 2 harus menampilkan sesuatu yang unik, fantastik, dan spektakuler,” kata Dynand.

Peserta masih akan melewati serangkaian proses berupa workshop, evaluasi, dan gladi. Kegiatan SBC 2 menurut Purnomo Subagyo, menelan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2009 sebesar Rp 100 juta. Sisa kebutuhan dana akan ditanggung pihak ketiga.

Wali Kota Solo Joko Widodo mengatakan, SBC dan Solo International Ethnic Music (SIEM) telah masuk sebagai dua dari tujuh agenda tahunan yang disusun stakeholder pariwisata nasional. Penyelenggaraan SBC, katanya, merupakan upaya membentuk brand atau citra Solo sebagai Spirit of Java.

Sri Rejeki

Sumber: Kompas


Share:

Asal mula nama Sekaten

Nabi Besar Muhammad S.AW. lahir pada tanggal 12 bulan Maulud, bulan ketiga dari tahun jawa. Di Yogyakarta,biasanya kelahiran Nabi diperingati dengan upacara Grebeg Maulud.Sekaten merupakan upacara pendahuluan dari peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad. Diselenggarakan pada tanggal 5 hingga tanggal 12 dari bulan yang sama.

Pada masa-masa permulaan perkembangan agama Islam di Jawa, salah seorang dari Wali Songo, yaitu Sunan Kalijogo,mempergunakan instrumen musik Jawa Gamelan, sebagai sarana untuk memikat masyarakat luas agar datang untuk menikmati pergelaran karawitannya.Untuk tujuan itu dipergunakan 2 perangkat gamelan, yang memiliki laras swara yang merdu. Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Disela- sela pergelaran, kemudian dilakukan kotbah dan pembacaan ayat-ayat suci dari Kitab Alquran. Bagi mereka yang bertekad untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat,sebagai pernyataan taat kepada ajaran agama Islam. Istilah Syahadat ; yang diucapkan sebagai Syahadatain; ini kemudian berangsur- angsur berubah dalam pengucapannya, sehingga menjadi ; Syakatain; dan pada akhirnya menjadi istilah ; Sekaten ;hingga sekarang. Pada tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan, Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya dibangsal Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara (Keben) dan pada sore harinya mulai dibunyikan di tempat ini. Antara pukul 23.00 hingga pukul 24.00 ke dua perangkat gamelan tersebut dipindahkan kehalaman Masjid Agung Yogyakarta, dalam suatu iring-iringan abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit Kraton berseragam lengkap.

Pada umumnya , masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya berkeyakinan bahwa dengan turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad S.AW.ini yang bersangkutan akan mendapat imbalan pahala dari Yang Maha Kuasa, dan dianugrahi awet muda. Sebagai ” Srono ” (Syarat) nya, mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten. Oleh karenanya, selama diselenggarakan perayaan sekaten itu, banyak orang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih bersama lauk-pauknya di halaman Kemandungan,di Alun-alun Utara maupun di depan Masjid Agung Yogyakarta. Bagi para petani, dalam kesempatan ini memohon pula agar panenannya yang akan datang berhasil. Untuk memperkuat tekatnya ini, mereka memberi cambuk (bhs. Jawa ;pecut) yang dibawanya pulang. Selama lebih kurang satu bulan sebelum upacara Sekaten dimulai, Pemerintah Daerah Kotamadya, memerintahkan perayaan ini dengan pasar malam, yang diselenggarakan di Alun-alun Utara Yogyakarta.

http://students.ukdw.ac.id/~22022936/sekaten.html
Share: