Hayuk, Nulis Skripsi Yuk!

Assalamu’alaikum..
Kaifa haluk ikhwatii fillah?
Bagi kamu yang sudah menginjak di semester 6, harus sudah ancang-ancang buat proposal skripsi nih. Karena di akhir semester nanti bakal ada sidang proposal! Nah kira-kira apa aja sih langkah-langkah buat proposal skripsi. Nah, di sini, bakal sedikit akan ana bahas, tentang hal pertama kali yang harus antum lakukan ketika memulai untuk membuat skripsi.

1. Tentukan jenis penelitian
Pertama, antum harus tentukan jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi antum nanti. Antum bakal milih, mau pake studi pustaka, apa studi lapangan. Lalu setelah itu bakal milih mau kualitatif apa kuantitatif. Oke kita bahas satu-satu yah.

a. Studi Pustaka atau Lapangan?
Kalau ana saranin, antum langsung saja ambil Studi Lapangan. Emang sih nanti kalau ambil studi lapangan, banyak tenaga dan uang antum kekuras untuk modar-madnir kesana-kesini, untuk wawancara lah, untuk perizinan dan lain-lain, tapi percayalah terkhusus bagi teman-teman di almamater saya, para dosen cenderung menginginkan kita memilih studi lapangan. Walaupun kalau dipikir agak susah, tapi nanti bakal gampang banget ketika sidang/ujian skripsi. Jelas gampang, karena di situ, antumlah yang jadi ‘raja’, antum yang menguasai materi antum, dan para dosen hanya sekedar menanyakan hal-hal yang antum sudah kuasai itu, sedangkan penguji tak tahu menahu. Tapi kalau kamu berniat ambil studi pustaka, siap-siap, antum harus benar-benar menguasai materi antum, bahkan harus menguasai hal-hal yang berkaitan dengan materi, walau tidak termasuk pembahasan dalam skripsi. Karena antum tahu sendiri lah, para dosen ilmunya jelas lebih banyak dari kita, mereka banyak menguasai ilmu-ilmu yang kita pelajari, bahkan jelas jauh lebih paham dari kita sendiri. Antum harus kuatkan mental antum, karena di sini, para ‘penguji’lah yang ‘menguasai’ alur jalannya sidang skripsi nanti. Antum harus kuat dan siap dengan dalil dan hujjah yang tak bisa mereka patahkan dengan mudah. Antum harus perluas wawasan antum terhadap materi yang antum bawakan.

b. Kualitatif atau Kuantitatif
Nah, kalau ini saya saranin antum ambil kualitatif, untuk pengertiannya antum bisa baca buku karangan Dr Musfiqon, dosen UMSIDA, tentang metode penelitan hehe. Kenapa kualitatif? Karena kalau ambil kuantitatif, antum bakalan ketemu dengan yang namanya rumus-rumus yang sampai sekarangpun ana gak paham gimana ngitungnya dan gak hafal rumusnya, haha.
Kalau kualitatif, bagi kamu yang ambil studi lapangan, paling kamu cuma wawancara atau edarin angket saja, nggak sampai buat rumus-rumus yang bikin pusing. Dan sampel yang dibutuhkan untuk penelitain kualitatif biasanya lebih sedikit daripada sampel penelitian kuantitatif. Ya kalau penelitian kualitatif, antum cukup perlu sampel minimal 5 sampai 7 lah. Insya Allah cukup.

3. Pertimbangkan Masalah Sampel Penelitian
Nah, tadi kan sudah ane singgung sedikit tentang sampel ya, misal kalau penelitian kuantitatif lebih banyak memerlukan sampel daripada penelitan kualitatif. Nah disini ana mau jelasin bahwa salah satu pertimbangan awal dalam menentukan judul adalah sampel. Sebetulnya ini mau ana tulis setelah mbahas masalah jenis studi pustaka atau lapangan, tapi karena subbabnya tentang jenis penelitan, maka sampel saya pisahkan. Balik ke masalah sampel, jadi nggak usah muluk-muluk, kamu amati, kira-kira kamu deket dengan siapa di sekilingmu. Misal nih kamu adalah imam masjid, nah ‘manfaatin’ jamaah kamu sebagai sampel penelitianmu. Misal kamu jadi pengajar di salah satu SD, kamu bisa minta tolong teman-teman guru lain untuk menjadi sampel penelitianmu. Sekali lagi nggak usah muluk-muluk. Waktumu nggak banyak. Apalagi yang kuliah sama kayak saya. Yang harus memenuhi 250 lebih SKS dalam empat tahun. Hahaha. Ana saranin, antum nggak perlu ambil sampel di ‘kampung’ tenpat kelahiran antum. Ya kalau antum mau repot nggak masalah. Tapi kalau mau simpel, yang dekat-dekat saja. Oke?

3. Pilah Pilih Judul
Nah untuk memilih judul, antum bisa googling judul-judul skripsi sesuai dengan program study kita yang ada di internet banyak sekali, dari berbagai macam kampus/ universitas. Inget, cari judul sesuai tema yang kamu pilih. Sambil menyelam minum air, selagi kamu googling tentang judul, kamu bisa sekaligus mencari skripsi-skripsi yang berkaitan dengan judul yang sekiranya kamu pilih.. tujuannya untuk apa? Jelas, sebagai bahan penelitian terdahulu yang nanti akan dimasukkan dalam BAB I. Jadi antum pilih judul yang sangat berkaitan dengan penelitian antum sebagai bahan penelitian terdahulu.

4. Start!
Setelah terkumpul judul-judul skripsi sesuai tema yang kamu pilih, waktunya membuat Judul. Nah, yang paling gampang dalam pembuatan judul adalah dengan mengubah tempat penelitian judul-judlu yang tersedia tadi sesuai dengan apa yang ingin kita bahas. Jadi misal Judulnya “Efektifitas Zakat Mal sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan” (Studi Kasus di..... ), nah antum tinggal ganti nama tempatnya aja. Hehehe. Setelah itu barulah kamu bisa memulai menulis proposal skripsi antum. Jangan nunggu teman-temanmu yang terlalu santai. Ingat “man adlja balaghal manzila” siapa yang berangkat lebih pagi, maka akan lebih cepat sampai. Good Luck ya! Barokallahu fiikum.

Ini ane kasih link download proposal skripsi dan skripsi ana. Gratis! Doanya aja yang diharapkan. Hehe.
Wassalamu’alaikum.


Kartasura, 8 Shafar 1440 H / 17 Oktober 2018 M
Diedit dan dipulikasikan16 Shafar 1440 H / 25 Oktober 2018 M
Share:

Smartphone Idaman nan Menawan

Siapa yang tidak butuh ponsel pintar di zaman sekarang? Zaman dimana semua serba digital, otomatis menjadikan smartphone tak hanya sebagai pelengkap tapi sudah menjadi suatu kebutuhan. Tak hanya untuk komunikasi, smartphone digunakan dalam banyak hal, sebut saja mulai dari mengambil foto dan video, layaknya fungsi sebuah kamera, sampai editing foto atau video, berbelanja online, membayar tagihan ini itu, menulis catatan bahkan sampai transaksi online seperti transfer uang bisa dengan mudah dilakukan dengan smartphone.

Dengan berbagai kebutuhan yang ada, maka diperlukanlah smartphone idaman yang dapat memenuhi hal-hal tersebut.
Yang pertama tentu adalah desain sebuah smartphone. Karena desain adalah hal pertama yang bakal dilihat orang. Smartphone yang bagus, tentu memerlukan desain yang bagus. Tidak asal-asalan dan punya daya tarik ‘eyecathing’ bila berada dalam keramaian banyak orang. Dengan layar yang sudah menggunakan teknologi full view display berkat rasio 19 : 9, ditambah dengan notch yang ada di bagian atas layar mampu memberikan pengalaman pengguna dalam bermultimedia lebih lega. Begitu juga dengan desain belakang yang tak kalah bagusnya. Dengan tone gradasi warna membuatnya eyecatching dan terlihat berbeda dengan smartphone lain yang hanya mempunyai satu warna yang terbilang ‘membosankan’ untuk zaman sekarang.


Yang kedua tentu tentang ‘jeroan’ smartphone itu sendiri. Dengan dukungan prosesor terkini, ditunjang dengan RAM yang besar, membuat smarphone dapat dengan lancar menjalankan berbagai macam aplikasi tanpa lag. Juga dengan dukunagn GPU yang bagus, bermain game tambah asyik karena grafiknya tajam.
Yang ketiga yang tak kalah penting bahkan sangat penting adalah storage. Jika penyimpanan samrtphone hanya sedikit, tentu sangat mengganggu kita bagi yang memerlukan aplikasi banyak yang wajib diinstal. Tapi dengan memori internal 128 GB, kita tak perlu khwatir lagi kekurangan penyimpanan.
Nah, bila kita melihat pasar smartphone saat ini, maka yang cocok memenuhi kriteria Smartphone Idaman 2018 adalah Huawei Nova 3i.

  
Huawei termasuk salah satu brand yang sudah lama berkecimpung di dunia selular. Tak perlu diragukan kualitasnya, handphone dari jenama ini memiliki kualitas yang bagus. Tak heran jika sekarang Huawei menduduki peringkat kedua pasar smartphone global setelah Samsung.
Di telinga masyarakat Indonesia pun sudah tak asing dengan brand ini. Huawei memang terkenal memberikan kualitas yang bagus pada setiap ponsel yang dikeluarkannya. 

 
Salah satu tipe Huawei yang cocok menjadi smartphone idaman tahun ini adalah Huawei Nova 3i. Berbekal prosesor Octacore Kirin 710, besutan Huawei sendiri ditambah dengan kapasitas RAM 4 GB dan memori internal sebesar 128GB. What? 128GB? Iya, 128 GB. Dan ini menjadi smartphone mid-range yang memiliki storage paling besar di kelasnya lho. Sedangkan sistem Operasi yang digunakan adalah Android 8.1 Oreo. Dimensinya tergolong compact memiliki lebar 75,2 mm, tinggi 157,6mm, tebal 7,6mm dan berat 169 g menjadikannya tidak terlalu besar untuk ukuran kebanyakan tangan orang Indonesia. Layarnya berukuran 6,3 inci dengan resolusi FullHD+ (2340 x 1080) dengan kerapatan 409 ppi dan berjenis LCD IPS, menjadi paduan yang sangat hebat untuk menjalankan berbagai aplikasi mulai dari multimedia, game dan lainnya. 


Kamera di handphone ini memiliki resolusi 16 MP dan 2 MP di bagian belakang, dan 24 MP dan 2 MP di bagian depan. Cocok buat kamu yang ingin foto bokeh baik dengan kamera depan atau belakangnya karena sudah memiliki kamera ganda di kedua sisinya. Plus ada fitur AI yang bisa meningkatkan kualitas foto kita jadi makin mantul!
Smarphone ini sudah mendukung dual sim jadi tak usah khawatir bagi kamu pengguna dua kertu operator sekaligus. Baterai di smartphone ini tergolong standar yaitu 3340 mAh dengan charger 5V / 2A. Smartphone dengan desain yang ciamik ini mempunyai dua pilihan warna, yaitu Black dan Iris Purple. Yang Iris Purple punya gradien warna biru dan ungu yang keren. Ditambah lagi Smartphone ini juga dilengkapi fitur GPU Turbo lho, yang bakal meningkatkan performa smartphone Huawei Nova 3i ini.
Bagaimana? Tertarik kan dengan smartphone idaman yang satu ini? Saya juga tertarik kok. Hehe.
#HuaweiNova3i_ID #ChooseTheBest

Huawei Nova 3i Blog Competition by Koh Huang

Share:

Ketika Takdir Sulit Dipahami

Tidak semua yang saya inginkan bisa saya peroleh, tidak semua ujung dari ikhtiar seperti yang saya rencanakan diawal, bahwa ketika saya merangkai hidup 1+1 dan 2 yang harapkan terjadi namun tidak selamannya begitu, karena pada akhirnya takdir ALLAH lah yang akan terjadi, meski kadang takdir tak mampu saya pahami, iya ketika takdir tak lagi mampu saya pahami apa yang harus saya lakukan? :(
Masih terngiang ditelinga saya kalimat “Man purpose, ALLAH dispose” bahwa hidup adalah rangkaian ikhtiar demi ikhtiar dan ujung dari ikhtiar ini bukan manusia yang menyelesaikan, manusia berikthiar ALLAH yang akan menyelesaikan, yang berawal dari sebuah niat, niat yang mulia maupun tidak mulia maka akan selalu ada dua kemungkinan yang terjadi diujung ikhtiar yaitu apakah hasil yang akan terjadi itu sesuai dengan rencana saya atau sebaliknya, inilah ruang kuasa ALLAH, iya ada ruang yang mesti saya sadari, ruang di mana setiap ikhitiar tak dapat saya ketahui ujungnya, ruang yang benar – benar sangat gelap bagi saya.
Ruang itu adalah kehendak ALLAH… (QS. Ar – Rad : 39)
“ALLAH menghapuskan apa yang DIA kehendaki dan menetapkan apa yang DIA kehendaki”
Dan betul bahwa saya hanya hamba apa yang terjadi pada seorang hamba tak luput dari kehendak ALLAH, yang perlu saya pahami didalam setiap kehendak ALLAH bernama takdir adalah bukan hanya ALLAH menunjukan betapa maha berkehendaknya DIA, tapi juga betapa ALLAH mengetahui segala galanya, bahkan yang menurut saya gelap dan misteri, ALLAH mengetahui itu, yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi semua dalam genggaman ALLAH [subhanallah], untuk itulah ALLAH memilihkan takdir terbaik karena DIA bukan hanya berkendak tapi maha tahu, sedang saya? :)  Saya adalah milik ALLAH dan setiap pemilik akan memelihara apa yang dimilikinya dengan kasih sayang artinya apapun itu, iya apapun yang terjadi saat ini karena ALLAH menyayangi saya, mungkin saat ini terlihat seperti luka yang perih menyayat hati namun tahukah saya bahwa esok ini akan menjadi sesuatu yang saya syukuri, sesuatu yang akan mendekatkan diri saya kepada ALLAH :) lalu masihkah saya marah atas takdir kali ini ketika saya tahu bahwa ini terjadi karena kasih sayangNYA.
Ketika semua tak seperti yang saya inginkan, sedih pasti, kecewa apalagi,  dan akan menjadi kekeliruan yang fatal ketika saya salah menyikapi, haruskah saya marah dengan ALLAH yang telah memutuskan ini terjadi? satu hal yang harus saya ingat “boleh jadi engkau menyukai sesuatu tapi itu belum tentu baik menurut ALLAH, dan boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi itu belum tentu buruk menurut ALLAH” siapa yang lebih tahu, saya atau ALLAH? jadi kalau saya protes sok tahu banget saya merasa bahwa rencana saya yang terbaik dan harus terjadi :)
Hidup memang hitam putih, berliku dan kadang harus memasuki lorong gelap sendiri, namun semua karena kasih sayang ALLAH, bukankah ALLAH tidak pernah membiarkan saya sendiri melalui semua ini, janji ALLAH untuk bersama orang orang yang sabar itu pasti dipenuhiNYA, ALLAH tidak pernah ingkar janji, jadi JANGAN berprasangka buruk kepada ALLAH bahwa luka ini terjadi karena ALLAH tidak sayang saya, nauzubillahimindzalik.
Dan teruslah penuhi hidup dengan berbaik sangka kepada ALLAH, jangan ada ruang sekecil apapun dalam diri ini untuk berburuk sangka padaNYA, dapat menemui kehendakNYA sejalan dengan prasangka saya kepadaNYA. Percaya deh, dengan berbaik sangka kepada ALLAH akan merubah musibah menjadi anugrah, kesedihan menjadi kegembiraan. Karena ALLAH mengikuti prasangka hambaNYA. Ujian, kehilangan, luka yang terjadi akan berubah dalam sesaat menjadi kekuatan hidup yang kian membuat saya lebih bijaksana dan tenang.
Saya jadi ingat ucapan sahabat saya “kalau semua yang terjadi adalah takdir ALLAH, ngapain dong gue harus sibuk ikthiar De, duduk manis aja nunggu takdir” ini namanya pasrah, kira kira apa yang akan kita dapat ketika kita hanya pasrah tanpa ikhtiar? dapat apa yah kira kira? satu lagi yang perlu diingat takdir ALLAH adalah akhir dari ikhtiar, ikthiar dulu baru takdir, mau apa hidup hanya gitu gitu aja, pahala juga gitu gitu aja, tingkat kemuliaan juga gitu gitu aja, apalagi kasih sayang ALLAH  :) sudah terlalu banyak orang biasa dibumi ALLAH ini, maka kita harus menjadi hamba yang luar biasa !! kan gitu yah?
Ketika takdir ALLAH tak dapat dipahami, maka kembalikanlah kepadaNYA, sebab memang ada ruang gelap yang dengan ilmu saya akan sulit saya pahami, namun tak sulit untuk direnungi. Diruang inilah tempat saya menyandarkan segala pengharapan saya. Diruang inilah energi tawakal saya letakan, kepasrahan saya labuhkan. Akhirnya, sayapun akan mengerti takdir ALLAH adalah cintaNYA kepada saya…
Again, kita hanya hamba, hanya debu, ALLAH lah pemilik segala keputusan, STOP bertanya mengapa begini mengapa begitu, tak akan sanggup kita memahami ruang misteri milik ALLAH :)
ALLAH lebih tahu yang terbaik, semakin ridho semakin cinta ALLAH kepada kita :)yok, raih cinta ALLAH melalui keikhlasan, keridhoan ini, ridho !!

Sumber : http://rinduku.wordpress.com/2010/07/04/ketika-takdir-sulit-dipahami/
Share:

Pengakuan Utbah bin Rabi'ah

Pengakuan musuh islam terhadap kejujuran RasulullahDakwah Rasulullah saw makin gencar sehingga para pemimpin Quraisy berencana mencegah penyebaran Islam lebih luas lagi dengan mengirimkan Utbah bin Rabi'ah kepada Rasulullah saw. Misi Utbah adalah membujuk Rasulullah agar berhenti berdakwah.

Rasulullah saw menyambut kedatangan Utbah dengan sangat baik. Utbah membuka percakapan dengan bertanya kepada Rasulullah saw., "Siapakah yang lebih baik, wahai Muhammad? Kau atau ayahmu?"

Rasulullah diam. Mungkin beliau merasa tidak perlu menjawab pertanyaan seperti itu.

Utbah tidak menyerah dan melanjutkan, "Putra saudaraku, engkau adalah bagian dari diri kami sebab kami tahu persis silsilah keluargamu. Akan tetapi, engkau membawa kepada kaummu sesuatu yang sangat besar dan mencerai-beraikan mereka. Oleh karena itu, aku datang kepadamu untuk menawarkan beberapa hal yang bisa kau pertimbangkan untuk kau terima. Jika kau melakukan semua itu untuk harta, kami bersedia mengumpulkan seluruh harta kami untuk diberikan kepadamu agar kamu menjadi orang terkaya di antara kami. Jika engkau menginginkan kedudukan, kami siap mengangkatmu menjadi penguasa kami, dan kami tidak akan memutuskan perkara sebelum kamu memutuskannya. Seandainya engkau ingin menjadi raja, kami akan menobatkanmu menjadi raja. Jika kamu melakukan hal itu karena keyakinanmu dan tidak mudah kau hilangkan dari dirimu, kami akan memanggil seorang tabib berapa pun biayanya untuk menghilangkan keyakinanmu itu sampai kau terbebas darinya."

Rasulullah tetap diam. Utbah mulai kehabisan kata-kata karena tawarannya tidak ditanggapi Rasulullah. Akhirnya, Utbah pun ikut terdiam. Melihat Utbah yang tampak kebingungan, Rasulullah bertanya kepadanya, "Ada lagi yang hendak kau katakan?"

Utbah menjawab, "Tidak ada."

Kemudian Rasulullah saw membacakan Surat Fushshilat [41]: 13, "Jika mereka berpaling maka katakanlah, "Aku telah memperingatkan kamu akan (bencana) petir seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud."

Ayat tersebut seolah menyambar Utbah bagai petir yang sangat dahsyat. Seluruh tubuh Utbah gemetar karena ketakutan yang luar biasa. Ia tahu Rasulullah tidak pernah berbohong sehingga ia khawatir ayat tersebut akan menjadi kenyataan. Secepat kilat ia berbalik arah meninggalkan Rasulullah saw dan kembali ke rumahnya.

Sementara itu, para pemimpin Quraisy menanti dengan gelisah. Mereka memperoleh laporan bahwa Muhammad menyambut kedatangan Utbah dengan baik. Mereka khawatir Utbah tidak berhasil menghentikan dakwah Rasulullah, tetapi tertarik untuk menerima Islam.

Melihat kedatangan Utbah, Abu Jahal langsung menuduhnya dengan penuh kecurigaan, "Aku dengar Muhammad memperlakukanmu dengan baik dan menjamumu. Sebagai imbalannya kau percaya kepadanya. Orang-orang berkata demikian!"

Tidak suka diperlakukan seperti itu, Utbah menjawab pula dengan emosi, "Kautahu aku tidak butuh apa pun darinya. Aku lebih kaya daripada kalian semua. Namun, apa yang ia katakan mengejutkanku! Kata-kata tersebut bukanlah syair, sihir, atau mantra. Dia orang yang jujur. Saat aku dengar ia membacanya, aku takut apa yang terjadi pada kaum Ad dan Tsamud akan menimpa kita juga!"

Utbah menyadari bahwa peringatan azab dari Rasulullah bukanlah main-main. Tidak pernah sekalipun Rasulullah saw berdusta. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya adalah kalam Allah SWT yang tidak diragukan lagi kebenarannya.

Tidak hanya sampai di situ, ketakutan Utbah terbawa hingga menjelang dimulainya Perang Badar. Utbah bin Rabi'ah membujuk kaumnya untuk meninggalkan peperangan dengan mengingatkan mereka akibat dan bahaya yang akan mereka hadapi.

Ia berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya kaum muslimin itu akan berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan!" Akan tetapi, Abu Jahal menanggapinya dengan sinis.

Utbah melanjutkan alasannya, "Sesama saudara akan membunuh satu sama lain. Sungguh hal itu akan meninggalkan kepahitan yang tak pernah hilang selamanya!"

Abu Jahal langsung menuduhnya sebagai penakut. Tidak terima dengan tuduhan tersebut, ia langsung menantang saudara laki-laki dan putranya untuk bermain anggar melawan dirinya, satu lawan dua.

Ketika Utbah mengendarai unta merah, Rasulullah saw bersabda, "Jika ingin selamat, seharusnya mereka mengikuti perkataan si penunggang unta merah itu. Jika mereka mendengar perkataannya, niscaya mereka akan selamat."

Ahmad dalam Al-Fath Ar-Rabani menuturkan bahwa Allah SWT menciptakan perselisihan di antara pasukan musuh untuk melemahkan semangat mereka. Allah SWT juga menghendaki mereka tidak terpengaruh oleh bujukan Utbah. Mereka lebih mendukung Abu Jahal yang memiliki dendam kesumat kepada Rasulullah saw dan kaum muslimin.

Akhirnya, Utbah tewas di peperangan Badar. Mayatnya dilempar ke dalam sumur tua bersama mayat-mayat orang musyrik lainnya. Putra Utbah, Abu Hudzaifah, yang telah menjadi seorang muslim terlihat sedih ketika melihat ayahnya tewas dalam peperangan melawan kebenaran. Menyadari hal itu, Rasulullah saw yang sejak awal memerhatikan Abu Hudzaifah berkata, "Sepertinya, keadaan ayahmu telah mengusik hatimu."

Abu Hudzaifah mengelak, "Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah! Aku tidak ragu dengan keadaan ayahku dan kematiannya. Akan tetapi, aku tahu betul bahwa ayahku sebenarnya mempunyai pandangan, cita-cita, dan keutamaan yang sangat kuharapkan dapat ia persembahkan kepada Islam. Melihat apa yang menimpa ayahku, mati dalam keadaan kafir, sementara harapanku padanya masih menggebu, tentu saja aku bersedih karenanya," tutur Abu Hudzaifah.

Kemudian Rasulullah saw mendoakan yang baik-baik untuk Utbah dan menasihatkan kebaikan kepada putra Utbah tersebut
Share:

Iblis berkhutbah…??

Iblis berkhutbah…??, benar…ia berkhutbah…bahkan khutbah yang paling menyentuh hati…tidak ada khutbah yang menyentuh hati sebagaimana khutbah Iblis ini.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ، قَامَ إِبْلِيْسُ خَطِيْبًا عَلَى مِنْبَرٍ مِنْ نَارٍ ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ

"Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya…" (Tafsiir At-Thobari 16/563)

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

يُخْبِرُ تَعَالَى عَمَّا خَطَبَ بِهِ إِبْلِيْسُ أَتْبَاعَهُ، بَعْدَمَا قَضَى اللهُ بَيْنَ عِبَادَهُ، فَأدخل المؤمنين الجنات، وأسكن الكافرين الدركات، فقام فيهم إبليس -لعنه الله -حينئذ خطيبا ليزيدهم حزنا إلى حزنهم (4) وغَبنا إلى غبْنهم، وحسرة إلى حسرتهم

"Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan…." (Tafsiir Al-Qur'an Al-'Adziim 4/489)

Khutbah tersebut disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya pada saat yang sangat menegangkan…tatkala mereka pertama kali dimasukkan ke dalam neraka jahannam…tatkala mereka telah melihat api yang menyala-nyala yang siap membakar mereka…!!!

Khutbah tersebut…

Benar-benar masuk ke dalam hati para pengikut Iblis…,

Khutbah yang mengalirkan air mata mereka…

khutbah yang benar-benar telah menyadarkan mereka akan kesalahan-kesalahan mereka…

Khutbah yang menyadarkan mereka bahwasanya selama ini mereka hanya terpedaya oleh sang pemimpin…sang khotiib…Iblis la’natullah 'alaihi

Allah menyebutkan khutbah Iblis yang sangat menyentuh tersebut:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٢)وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ (٢٣)

"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih".Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka" (QS Ibrahim : 22-23)

Demikianlah khutbah Iblis tersebut….setelah ia menggoda manusia…setelah menipu mereka…setelah menjerumuskan mereka dalam neraka…setelah tercapai cita-citanya…lalu…

Iapun berlepas diri dari para pengikutnya. Ia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas godaan-godaannya…

Bahkan ia sama sekali tidak mau disalahkan dan dicela…akan tetapi ia menyuruh mereka (para pengikutnya) untuk mencela diri mereka sendiri…

Bahkan ia mengaku sejak dulu kufur/ingkar terhadap kesyirikan yang dilakukan oleh pengikutnya…

Yang lebih menjadikan para pengikutnya tersentuh, Iblis menutup khutbahnya dengan menyatakan bahwa "Sesungguhnya orang-orang zalim mendapatkan siksaan yang pedih"…lalu Iblis menyebutkan tentang kenikmatan penduduk surga, yaitu orang-orang yang tidak mau menjadi pengikut Iblis…!!!

Sungguh kehinaan dan kesedihan yang tidak bisa terbayangkan dalam hati para penghuni neraka tatkala mendengar khutbah dari sang pemimpin…

Semoga Allah menjaga kita dari rayuan Iblis…jangan sampai kita termasuk dari orang-orang yang tersentuh karena kutbah Iblis ini….orang-orang yang tatkala di dunia tidak tersentuh oleh nasehat-nasehat, tidak tergerak hati mereka tatkala mendengar pengajian-pengajian dan khutbah-khutbah…hati mereka hanyalah tergerak dan tersentuh tatkala mendengar khutbah Iblis….wal'iyaadzu billah
Share:

ikhwan, ikhwan

Ikhwan…Ikhwan…

Ga ada apa-apa sih….cuman…

Salut aja….

...Wan, ngapain sih tunduk2 gitu kalo jalan?Duit

kamu hilang?

Oh, ternyata si ikhwan cuma mau menjaga

pandangan.

Truz, koq ga mau salaman sama perempuan?

Kata ikhwan, agamanya melarang lawan jenis

bukan muhrim bersentuhan.Ooh, begitu ya wan..

Kamu juga dikenal sebagai makhluk yang anti

pacaran.

Kenapa sih wan?

Apa?! Pacaran itu dilarang??!Masa iya sih wan?

Ikhwan bilang, “lebih enak pacaran setelah

pernikahan,

ga dapet dosa, malah dapet ganjaran.”

Wah, asyik tuh wan..!Umm…jangan marah ya

wan…

Aku pernah denger selentingan,

Kata orang, penampilanmu itu rada kampungan.

Trus, kamu juga dibilang kuper alias kurang

pergaulan.Ups! Sorry ya wan…

“Biar aja dibilang kampungan, yang penting otak

briliyan,

lebih baik dibilang kuper (kurang pergaulan)

daripada dicap kuber alias kurang beriman.”Begitu

jawab si ikhwan.

Ooo….

Tapi wan, koq kamu pake celana cingkrang?

Hah?! Isbal (memanjangkan celana sampe bawah

mata kaki) itu di larang??!

Eh, jenggot di dagumu juga semakin panjang.

Trus, kenapa tuh ada stempel di jidat kamu wan?

Ooh…pantesan…

Qiyamullail jadi kebiasaan

Shalat jama’ah di masjid ga ketinggalan

Hafalan Qur’an jadi kebutuhan

Shoum sunnahnya juga gak telewatkan

Ma’tsurat-an pagi petangApalagi tilawah quran…

Wuiiiih…kagak pernah bosan!

Salut deh wan!

Eh, wan. Denger2 kamu mau pergi berjuang?

Ke mana sih wan?

Apa?! Ke medan pertempuran??!Apa gak takut

nyawamu melayang?

Kata si ikhwan, “ ’isy kariiman au mut syahiidan!”

Hmm…ini baru namanya militan.

Oh ya wan, akhir2 ini aq sering ngeliat kamu

senyam-senyum sendirian.

Cari maisyah (penghasilan) pun jadi giaaat tenan.

Ada apa dengan si ikhwan?

Wah…ternyata bentar lagi ikhwan mau walimahan!!

Barakallah, Barakallah ya wan…!!^__^v
Share:

Sahabat Sejati, Hanya yang Berdimensi Ukhrawi

Temanmu adalah yang membuatmu menangis karena nasehat, bukan yang membuatmu tertawa disebabkan lelucon

Hidayatullah.com— “Seribu teman masih terlalu sedikit, sedangkan satu musuh sudah terlalu banyak," demikian seharusnya perilaku sosial orang dalam masyarat.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup dengan kesendiriannya. Mereka membutuhkan orang lain sebagai kawan, sahabat untuk saling melengkapi, membantu antar satu sama lain yang bisa menjalin persahatan hingga akhir. Istilahnya, teman bisa dicari dalam sehari namun persahabatan tak cukup dibangun hanya seribu waktu dan sejuta masa.

Ungkapan-ungkapan bijak ini bukanlah suatu yang mengada-ngada. Tapi memang, itulah kenyataannya. Seseorang akan sangat terbantu masalahnya, manakala ia memiliki banyak kawan. Misal, ketika ia membutuhkan pekerjaan, maka, dengan mudahnya ia bisa meminta pertolongan melalui teman-temannya untuk memberi informasi ketika lowongan itu ada. Ketika satu tempat gagal, ia akan menghubungi sahabatnya yang berada di lokasi lain. Begitu seterusnya, hingga ia memperoleh apa yang ia butuhkan. Ini masih seputar permasalahan ekonomi, belum merambat ke permasalah lain, seperti curhat, konsultasi, dan lain sebagainya. Sahabat sangat berperan penting untuk mencairkan permasalahan-permasalahan tersebut.

Sebaliknya, ketika seseorang memiliki musuh, dunia akan terasa sangat sempit, karena setiap kali kita melangkahkan kaki ke luar rumah, kita selalu merasa dihantui oleh rasa takut, khawatir akan bahaya ancaman musuh yang setiap saat bisa menghampiri. Dunia seluas inipun akan terasa tak seubahnya daun kelor, kecil lagi sempit. Itulah perbedaan antara memiliki teman dan musuh.

Sekalipun demikian kian, kitapun harus selektif dalam memilih teman, sebab, bukan mustahil sahabat yang kita anggap bisa membawa rahmat, justru menimbulkan mafsadat. Karena pada realitasnya, banyak orang yang 'mencuri' perilaku buruk dari teman karibnya. Yang menjadi masalah, kebanyakan mereka tidak menyadari sama sekali akan hal itu. Ingatlah akan warning Rosulullah yang menyatakan bahwa dalam hal bergaul dengan orang lain, kita tak ubahnya mendekati dua orang. Yang pertama, pandai besi, dan yang kedua penjual minyak wangi.

Ketika kita berakrab-akrab dengan pandai besi, sedikit demi sedikit kita akan terkena panasnya percikan api yang keluar dari besi. Sebaliknya, ketika kita berdekat-dekat dengan penjual wewangian, secara spontanitas, kitapun akan mendapatkan aroma harumnya juga. Begitu pula perihalnya dalam memilih sahabat. Karena itu, kita harus berhati-hati.

Teman Baik

Memiliki teman baik adalah impian semua orang. Tak satupun manusia sudi memiliki sahabat yang rela 'memakan' sahabatnya sendiri. Namun, kenyataannya tidak jarang orang salah kaprah dalam memaknai teman baik.

Ada sebagian mereka yang berpendapat bahwa teman baik itu adalah teman yang seia-sekata. Artinya, siap membantu dan mendukung dalam segala hal. Adalagi yang mendefinisikan, bahwa teman baik adalah teman yang setia dalam suka maupun duka.

Apapun definisi yang digunakan dalam memaknai teman baik, itu sah-sah saja, karena setiap orang pasti memiliki alasan tertentu mengapa ia memiliki pemahaman yang demikian. Namun, sebagai muslim, kita harus memiliki pemahaman yang pas, yang sejalan dengan ajaran Islam, sebab, tidak semua pengertian mengenai teman baik, itu sebanding lurus dengan ajaran agama ini.

Islam memiliki 'rambu-rambu' yang jelas dalam memaknai teman baik dan buruk. Sebab itu, belum tentu teman yang katanya seia dan sekata itu teman yang baik menurut pandangan Islam, karena, terlebih dahulu akan ditinjau, dalam hal apa mereka menerapkan definisi ini. Ketika mereka menegakkannya dalam hal amar ma'ruf nahi munkar, maka Islam membenarkannya. Tetapi, ketika hal itu dalam masalah kekufuran dan kejahatan, tentu hal ini tidak dibenarkan.

Firman Allah, “Dan saling membantulah kalian dalam hal kebaikkan, dan janganlah kalian saling membantu dalam hal keburukkan. “ (Al-Ma'idah: 2).

Karenanya, jangan sampai kita terkecoh, dengan alasan teman akrab, kitapun rela membantu teman kita, sekalipun dalam kejelekkan. Sekiranya itu terjadi, sejatinya kita telah berbuat kedzaliman pada teman, orang lain, dan pastinya, terhadap diri kita sendiri, “man a'annaka 'ala syarri dzalamaka” (barang siapa yang telah membantumu dalam hal keburukkan, maka sesungguhnya dia telah mendzalimu). Dampaknya, kita akan kebagian ‘bunga' dosa, sebagai buah atas keikutsertaan kita dalam mensukseskan misi jahat tersebut.

Hal ini berdasar pada hadits Nabi yang berbunyi, “Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikkan maka ia akan mendapatkan ganjaran setimpal dengan apa yang dilakukan oleh si pelaku”.

Mafhum mukhalafah dari hadits ini, mereka yang membantu kejelekkan, pun akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Dan yang lebih penting lagi, teman dalam perspektis Islam, tidak hanya terbatas di dunia semata. Namun, Ia mencakup dimensi akhirat. Persahabatan yang baik, yang mengharap ridha Allah, akan mengundang syafaat Allah di hari kiamat kelak.

Ini sebagaimana sabda Rosul yang menjelaskan bahwa kelak di akhirat akan ada beberapa kelompok manusia yang akan mendapat naungan Allah dimana pada saat itu tidak ada naungan selain naungan-Nya, dan salah satu diantara mereka adalah orang-orang yang bersahabat dan berpisah karena Allah.

Sebaliknya, persahabatan yang mengundang murka Allah, kelak, pada hari kiamat, justru akan menjadi sebab permusuhan mereka di akhirat, sekalipun mereka di dunia sangat kompak/setia, bagai kancing dan baju, kata orang. Mereka akan saling menyalahkan satu sama lain, saling menghujat, dan menuntut.

Firman Allah, “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (Az-Zuhruf: 67)

Dalam surat Al-Furqan, Allah juga berfirman, “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang dzalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rosul (27) wahai! Celaka aku! Sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” (Al-Furqan: 27-28).

Lalu, bagaimanakah profil teman baik itu, yang kelak, di akhiratpun akan tetap menjadi sahabat karib kita?

Dalam Al-Quran, Allah telah menggambarkan dengan gamblangnya sosok-sosok yang patut kita dekati sebagai teman dekat. Allah juga telah menjamin, bahwa hanya merekalah orang-orang yang baik untuk dijadikan teman.

Firman-Nya, “Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rosul-Nya (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Al-An'am: 69)

Bukti konkrit akan kebenaran mereka sebagai pribadi-pribadi yang sholeh, tercermin pada perilaku mereka yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikkan dan mencegah dari kemungkaran. Dan ciri itu pula yang melekat pada sosok teman yang baik itu, “Khaorul ash-haabi man yadulluka 'alal khairi” (Sebaik-baik teman adalah yang menunjukkanmu kepada kebaikan). Sahabat yang mengingatkan kita kepada kebaikan ketika kita lalai, mencegah kita untuk berbuat keji ketika kita terbawa arus ke sana, adalah hakekat teman sejati itu. Dan sungguh bukan termasuk sahabat yang membawa rahmat, bila sahabat kita tersebut ikut bergembira, tertawa merayakan kesuksesan kita dalam menjalankan kemaksiatan, “Shadiquka man abkaka laa man adh-hakaka” (Temanmu adalah yang membuatmu menangis -karena nasehat- bukan yang membuatmu tertawa -disebabkan lelucon-).

Akhirnya, kita berdo'a kepada Allah, semoga Dia senantiasa mempertemukan kita dengan para sahabat, yang mereka senantiasa mengajak kita mendekatkan diri kepada Allah, sehingga persahabatan kita pun dinaungi rahmat-Nya, yang kemudian menghantarkan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan naungan pada hari dimana tidak ada naungan, selain naungan-Nya. [Robin S/hidayatullah.com]

Sumber: http://hidayatullah.com/kajian-a-ibrah/gaya-hidup-muslim/12327-sahabat-sejati-hanya-yang-berdimensi-ukhrawi
Share:

Seruan untuk Bidadari

Jika kukatakan ini seruan, rasanya suara ini terlalu lemah. jika kukatakan ini dakwah, sepertinya kalian akan malas untuk membacanya. biar ku sederhanakan saja, ini adalah sentuhan..
 
Sentuhan dari hatiku yang terdalam,
Dari hati kami; para ikhwan yang mengagumi keindahanmu..
Semoga Allah melembutkan hatimu.
 
Wahai calon calon bidadari penghuni syurga,
Wahai calon calon istri shaleha kebanggaan Islam,
Wahai kaum hawa yang didadanya bertebaran tunas tunas Iman..
Yang telah membenarkan kebenaran Al-Islam..
 
Sungguh seruan ini adalah untukmu..
Kami tidak mengajak wanita wanita kafir pembangkang yang menolak cahaya Islam
Kami tidak menyeru penghuni biara biara kesesatan, atau wanita wanita malam metropolis!
Kami tidak menyeru kepada mereka yang hatinya telah mengeras menjadi batu, lalu Allah mengunci mati hatinya..
Seruan ini untukmu, yang masih mendengar..
Kami tidak menyeru kepada mereka yang biasa tertawa saat seruan berhijab datang..
 
Biarkan saja mereka begitu,
Hingga azab Allah mematahkan harapannya..
Semoga Hidayah Allah segera menyapanya..
 
Kami menyeru dengan kelembutan,
Hanya kepada hati hati yg lembut
 
Mencoba merayu dari sudut yang kami bisa,
Mengintip celah hidayah diantara hati hati yang resah,
Sebelum keresahan kalian itu megering..
 
Aku percaya hatimu lembut,
Selembut tutur bahasa, seteduh indah tatapan..
 
Aku tahu kalian sebenarnya iri,
Saat melihat hamba Allah lain bersahaja dengan jilbabnya
Istiqamah dan di manja dengan kerudungnya..
Begitu mempesonakan mata dengan abaya-nya
 
Jujurlah bahwa kalian gelisah
Kami pun paham, betapa beratnya harga yang harus kalian tukar..
Memilih istiqamah saat semua berpaling..
Menjadi baik saat kebaikan itu menjadi bahan celaan.
 
Tapi, jangan berbohong..
Jangan katakan aku belum siap!
Atau juga jangan kalian katakan 'aku ingin mengerudungi hatiku dulu..'
 
Aku jemu dengan kata kata itu!
Kami bosan dengan kata kata itu!
Itu adalah kemunafikan bibirmu saudariku. .
Jika kami mencintaimu karena Allah,
Kamipun akan benci karena Allah..
 
Coba renungkan wahai keindahan..
Sebentar saja, bayangkan..
 
Bayangkan dirimu yang cantik itu sedang berdiri
Gemetar dibibir jurang neraka..
 
Apakah kalian mengira malaikat jabanniyyah akan tergoda,
Mengurungkan niatnya untuk melemparmu kesana..
Apakah kalian mengira selembar rambut kalian itu akan lepas dari jilatan api neraka yang menyala nyala..
 
Apakah kalian kira seindah leher yang kalian pertontonkan kepada kami itu akan kebal api neraka..
 
Apakah kalian kira sindah lengan yang selalu cocok dengan segala mode itu akan tahan panas neraka..
 
Apakah kalian kira betis indah kalian itu akan lepas dari jeratan panas api neraka...
 
Ataukah kalian telah lupa..
Bahwa malaikat malaikat Allah setiap saat menulis setiap dosa dosa yang terabaikan itu..
Saat kalian tak sadar aurat kalian tak sengaja kami lihat?
 
Lupakanlah, neraka itu..
Jika kalian bosan mendengarnya.
Lupakan saja, seperti orang orang kafir yang melupakannya..
 
Sesungguhnya kami sangat takut..
Apakah kalian tidak kasihan kepada kami?
Renungkanlah pertanyaan kami, apakah kalian telah benar benar ingin mengajak kami ke neraka seperti pekerjaan harian iblis iblis terlaknat itu?
 
Apakah kalian tidak sadar,..
Dengan mengumbar bagian bagian tubuh kalian itu..
Kalian telah membantu iblis mengikis habis iman kami, menggoyah goyahkan pilar pilar Iman kami, bahkan meruntuhkannya.
 
Apakah kalian benar benar tidak takut Neraka?
 
Subhanallah..
Aku takut mendengarnya,
 
Maafkan aku.
Maafkan sekali lagi,
Sungguh aku membenci dirimu, diriku dan semua orang yang bergelimang dalam kesalahan. Yang biasa mencibir saat kebenaran itu diperdengarkan..
 
Tidak ada hitam di hatiku,
Aduhai, aku hanya ingin menyentuh hatimu dan membisikan sekali lagi
Siksa neraka itu berat saudari ku..
 
Aku ingin kalian pahami, bahwa kami sangat lemah
Kami sangat teramat lemah..
 
Hati kami bisa gemetar saat kalian lewat didepan kami
Hati kami kadang gemetar hanya mendengar suara tawa kalian
Kadang berdebar hebat saat bayangan keindahan itu melintasi benak kami
 
Kami jujur, kami kadang membayangkannya berulang ulang..
Bahkan mengganggu sholat kami....
 
Apalagi saat bentuk tubuh kalian sengaja disuguhkan dengan berbagai tatanan.
Kami pasti tidak bisa berkata kata.
 
Senangkah mendengarnya?
Kalian pasti senang, mendengarnya..
 
Atau kalian sedang membisikan sesuatu?
Iyah kalian pasti ingin menyalahkan kami,
Kalian tidak salah, kalian adalah mahkota mahkota terindah di bumi ini
Kudengar kalian juga calon calon bidadari penghuni syurga
Bahkan kudengar bidadari syurgapun iri kepadamu..
 
Aku ingin kalian menjadi bidadari itu,
 
Tapi, ingatlah sekali lagi..
Jangan kotori bibirmu dengan kemunafikan
Kerudungi seraut wajahmu, sebelum engkau berniat mengerudungi hatimu..
Karena hatimu tidak akan menggoda kami yang lemah ini
 
Silahkan katakan dengan lantang jika kalian memang benar..
Hati kalian adalah urusan kalian..
Urusanmu dengan RABBmu
 
Katakanlah sesukamu
Katakan ku ingin jilbabi hatiku dulu..
Teruslah katakan begitu, jika kalian benar..
 
Hiasi dulu indah wajahmu dengan jilbab,
Semoga setelah auratmu terlindungi hidayah akan menemuimu
Disaat hatimu sudah terasa teduh.
 
Semoga kata kata pedas ini menyentuh hatimu,
Aku memohon maaf atas tetasan darah luka atau kebencian dari pena yang kugoreskan.,
Semoga tetesan itu kelak menjadi saksi di akhirat
 
BAHWA HARI INI ADALAH PERUBAHAN!
 
Ini harus kami katakan,
Karena kami merindukan kalian; wahai wanita wanita sholehah...
Kami merindukan kalian..
 
Jaga kehormatan dan kemuliaan kalian
Jangan jadikan anugerah kecantikan itu menjadi fitnah
 
Semoga Allah melembutkan hatimu,
Semoga ini tidak melukai hatimu wahai saudariku,
 
Jika ada darah yang menetas disudut hatimu yang syahdu,
Jangan salahkan kami, jangan salahkan tulisan ini..
 
Ini hanyalah sebuah sentuhan
Untuk menghangatkan hatimu, bukan untuk menamparmu...
 
Agar kalian tidak lupa
Bahwa waktu demi waktu..
Menit demi menit.. jam demi jam, hari demi hari dan.. tahun demi tahun..
Saat kalian lupa atas jilbab kalian, ada dua malaikat yang tidak akan pernah lupa mencatat dosa yang kalian tebarkan.
 
Ketahuilah,
Malaikat jabaniyyah itu tidaklah ramah.
Api neraka tidak akan basa basi
 
Jika saja hati kalian masih sakit,
Coba sekali lagi renungkan, bahwasanya air garam hanya terasa sakit di kulit yang terdapat luka.
Air garam hanya akan menyayat kulit yang berpenyakit, air garam tidak akan terasa sakit di kulit yang sehat
 
Jika hati kalian sakit, maka maafkanlah aku.
Jika hati kalian sakit, maka jujur harus kukatakan bahwa hati kalian sedang berpenyakit
Kalian memang sakit.
 
Ini hanya mengingatkan,
Tentang sebuah kewajiban seorang hamba terhadap perintah pemilik jagat raya ini..
Kuyakin dari kalian ada yang tersinggung,
Tapi ini lah yang harus kami katakan..
 
Inilah hukum Allah,
Sungguh, kewajiban itu bukan paksaan.
Tapi pengkondisian, agar dirimu menemui kenikmatan.
Ingatlah wahai saudari saudariku tercinta.
 
Bahwasannya jika Allah ta'ala menjadikan Islam itu Mudah,
Bukan berarti hal Wajib bisa menjadi Sunnah...
 
Jika Berjilbab itu wajib,.
Itu adalah sebuah ketetapan yang harus diterima.
Bagi siapa saja yang enggan, dosa tetap ditulis..
 
Hari demi hari..
 
Ku yakin tak akan ada hati yang menolak,
Meski kenyataan bibir akan menolak dengan seribu alasan..
 
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata" (Al Ahzab 35)
 
Tutup auratmu..
Sebelum kain kafan memaksamu untuk menutupinya..
 
Untuk kalian yang telah berjilbab,
Berbahagialah dengan keteduhannya,
Semoga keistiqamahan menyertaimu saudariku..
 
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar" (Al Ahzab 35)
 
===
HIASI DIRI, BENAHI DIRI..
SAMBUT RAMADHAN, HANYA 9 HARI LAGI ..
 
9 HARI 18 JAM 18 MENIT 18 DETIK MENUJU RAMADHAN.. !
INSYA ALLAH..
 
BERSIAPLAH..
BERHIASLAH..
Sesungguhnya Allah memerintahkan surga-Nya seraya berfirman,
''Bersiap-siaplah surga-Ku dan berhias diri untuk hamba-hamba-Ku, mereka beristirahat dari lelahnya dunia menuju rumah-Ku dan kemuliaan-Ku.''
 
Surga telah berhias, bersiap siap menyambut kita..
Maka sepantasnya diri kitapun berhias untuknya,...
 
===
 
Created on August 23, 2010 at 9:36am.
Modified on July 22, 2011 at 00:15am KSA time.
 
Ahukumfillah,
Nuruddin Al-Indunissy
RIYADH 2011

Share:

NENEK PEMUNGUT DAUN

Kiriman dari seorang sahabat, diambil dari milis kisah hikmah : 
Kisah ini membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw? 

Insya Allah, Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya. 
"Nenek Pemungut Daun" Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. . 
Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. 
"Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, 
"Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya." 
Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. 
Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. 
"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya." 

Wassalam, 
M. Edi S. Kurniawan 
edieskurniawan@yahoo.com 
edi@neopulsa.com, www.neopulsa.com
Share:

Syaikh Sudais






# Subhanallah...Doa Ibu Saat Marah, Menjadikannya Imam Masjidil Haram #
Di masa kecil, ia senang bermain-main dengan tanah
Saat sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yg diadakan ayahnya,
Ketika tamu belum lagi datang...
Tiba-tiba kedua tangannya yang mungil mengambil tanah, 
ia masuk rumah dan melemparkan tanah itu ke arah makanan yg telah tersaji
Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah sembari berkata,
“PERGI KAMU, BIAR KAMU JADI IMAM HARAMAIN!”
Dan sekarang...anak itu telah dewasa dan telah menjadi Imam di masjidil Haram
Tahukah Anda, siapakah anak kecil yg didoakan ibunya itu?
Dia adalah Syeikh Sudais, Imam mAsjidil haram yg senandung tartilnya menjadi favorit kaum muslimin di seluruh dunia
#Bagi para ibu, hendaknya selalu mendoakan kebaikan untuk anaknya, bahkan meskipun ia dalam keadaan marah...karena salah satu doa yg tak terhalang adalah doa orangtua untuk anaknya
Share:

***KISAH HIDAYAH DI HARI JUM'AH***

(Agak panjang...tapi, Subhanallah...sgt mengharukan)

Mnjadi kebiasaan, di hari Jumat seorg Imam dan anaknya yg berumur 11 tahun membagi brosur di jalan2 dan keramaian, sebuah brosur dakwah yg berjudul “thariiqan ilal jannah” (jalan menuju jannah).
Tapi kali ini, suasana sangat dingin ditambah rintik2 air hujan yang membuat manusia benar2 malas untuk keluar rumah. Si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan utk mencegah dingin, lalu ia katakan,
“Saya sudah siap, Abi!” 
“Siap utk apa nak?” 
“Abi, bukankah ini waktunya kita menyebar brosur ‘jalan menuju jannah’?”
“Udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.”
“Tapi Abi, tetap saja ada org yg berjalan menuju neraka meski suasana sangat dingin.”
“Saya tidak tahan dengan suasana dingin di luar.”
“Abi, jika diijinkan, saya inginmenyebarkan brosur ini.”
Sang ayah diam sejenak lalu berkata
“Baiklah, tapi bawa beberapa brosur saja, jangan banyak2.”
Anak itupun keluar di jalanan kota utk membagi brosur kpd org yg dijumpainya, juga dari pintu ke pintu.
Stlh dua jam berjalan, dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan sepi dan ia tak menjumpai lagi org di jalanan. lalu ia mendatangi sebuah rumah utk membagikan brosur itu. Ia pencet tombol bel rumah....tapi tak ada yg mnjawab. Ia pencet lagi..dan tak ada yg keluar. Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yg menghalanginya. Untuk kesekian kali ia kembali memencet bel, dan ie ketuk pintu dengan keras. Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yg menyiratkan kesedihan yg dalam berkata,
“Apa yg bs saya bantu wahai anakku?”
Dengan wajah ceria, senyum yg bersahabat si anak berkata,
“Sayyidati (panggilan penghormatan utk seorg wanita), mohon maaf jika saya mengganggu Anda, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa brosur dakwah utk Anda yg mengabarkan kpd Anda bagaimana mengenal ALlah, apa yg seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara memperoleh ridha-Nya.”
Anak itu menyerahkan brosurnya, dan sebelum ia pergi wanita itu sempat berkata, “Terimakasih, Nak..hayyaakallah
SEPEKAN KEMUDIAN...
Usai shalat Jumat, seperti biasa Imam masjid berdiri dan menyampaikan sedikit tausiyah, lalu berkata, “Adakah di antara hadirin yg ingin bertanya, atau ingin mengutarakan sesuatu?”
Di barisan belakang, terdengar seorg wanita tua berkata,
“Tak ada di antara hadirin ini yg mengenaliku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sblm Jumat yg lalu saya merasa blm mnjadi seorg muslimah, dan tidak berfikir utk mnjd seperti ini. Sekitar sebulan suamiku meninggal, pdhl ia satu2 org yg kumiliki di dunia ini. Hari Jumat yg lalu, saat udara sgt dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, krn tak tersisa lagi harapan utk hidup. Maka saya mengambil tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumahku. Saya ikat satu ujung tali di kayu atap...saya berdiri di kursi..., lalu saya kalungkan ujung tali yg satunya ke leher, saya ingin bunuh diri krn kesedihanku...
Tapi, tiba2 terdengar olehku suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tdk menjawab, “paling sebentar lagi pergi”batinku.
Tapi ternyata bel berdering lagi, ditambah ketukan pintu yg makin kuat. Saya ragu, “Siap kira2 yg datang ini, setahuku tak ada satupun org yg mungkin memiliki keperluan atau perhatian thdpku.” Lalu saya lepas tali yg melingkar di leher, dan saya turun utk melihat siapa yg mengetuk pintu. 

Saat kubuka pintu, kulihat seorg bocah yg ceria wajahnya, dengan senyuman laksana malaikat dan aku blm pernah mlihat anak spt itu.
Dia mengucapkan kata2 yg sgt menyentuh sanubariku, “saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Kemudian anak itu menyodorkan brosur kpdku yg berjudul, “Jalan menuju jannah.”
Akupun segera menutup pintu, aku mulai membaca isi brosur. Stlh mmbacanya, aku naik ke lantai atas, melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan dan saya telah mantap utk tdk memerlukan itu lagi selamanya.
Anda tahu...sekrg ini saya benar2 merasa sangat bahagia, krn bisa mengenal ALlah yg Esa, tiada ilah yg haq selain Dia.
Dan karena alamat markaz dakwah tertera di brosur itu, maka asaya datang ke sini sendirian utk mengucapkan pujian kepada Allah, kemudian berterimakasih kpd kalian, khususnya ‘malaikat’ kecil yg tlh mendatangiku pada saat yg sangat2 tepat yg dgnnya mdh2an mjd jalan selamat saya dr kesengsaraan mnuju jannah yg abadi.
Mengalirlah air mati para jamaah yg hadir di masjid, gemuruh takbir..Allahu Akbar..menggema di ruangan. Sementara sang Imam turun dari mimbarnya, menuju shaf plg depan, tempat dimana puteranya yg tak lain adalah ‘malaikat’ kecil itu. Sang ayah mendekap dan mencium anaknya diiringi tangisan haru...Allahu Akbar!
#Kita bs mengambil faedah dr sgl sisi, baik di posisi wanita tua yg sdg gundah, sebagai ayah dan sebagai anak yg giat berdakwah.
Share:

Emansipasi Wanita seharusnya ditujukan pada Cut Nyak Dien, bukan pada RA. Kartini

Melihat hati seorang Pahlawan dari kata-katanya : 
Kartini : Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya TIADA SATU AGAMA pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad telah lewat menjadi biang-keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. (6 Nopember 1899) 
Cut Nyak Dien : Islam adalah AGAMA KEBENARAN dan harus diperjuangkan di tanah Aceh sampai akhir darah menitik 

Kartini : Hatiku menangis melihat segala tata cara ala ningrat yang rumit itu...
Cut Nyak Dien : Kita perempuan seharusnya tidak menangis di hadapan mereka yang telah syahid (Disampaikan pada anaknya Cut Gambang ketika ayahnya, Teuku Umar tertembak mati) 

Kartini : Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900)
Cut Nyak Dien : Untuk apa bersahabat dengan Ulanda Kaphe (Belanda Kafir) yang telah membakar masjid-masjid kita dan merendahkan martabat kita sebagai muslim! 


Idealnya seorang Pahlawan memperjuangkan kemerdekaan dari kolonialisme bukan kesetaraan yang tak jelas. Kartini tidak melalui satu medan perang pun, Kartini tidak hidup di hutan dan tidak pernah merasakan kehilangan suami dan anaknya, Kartini menggunakan peluru 'pena' dengan berkirim surat pada teman2 Feminis-nya di Belanda utk memperjuangkan hak perempuan yang menurutnya 'dikekang' oleh budaya Jawa khususnya ningrat. Jadi musuh Kartini bukan kolonial Belanda tapi adat ningrat Jawa. Mestinya ia jadi pahlawan bagi kaum Bumiputera Jawa. Cut Nyak Dien berjuang dari hutan ke hutan, bahkan ketika matanya mulai rabun dan penyakit encoknya kambuh, ia tidak berhenti berjuang. Ia melihat dua suaminya tertembak oleh Belanda, gugur di medan perang. Ia kehilangan anak perempuannya yang lari ke hutan ketika ia ditangkap dan dibuang ke Sumedang. Ia membangkitkan semangat jihad masyarakat Aceh ketika masjid2 mereka dibakar Belanda. Inilah pahlawan sejati yang seharusnya direnungi perjuangannya setiap tahun, perempuan yang melawan penjajah Belanda, bukan yang meminta bantuan Belanda dan bersahabat dng mereka selama masa penjajahan. 

Sumber : http://www.facebook.com/zaynur/posts/3181923582665
Share:

Pelajaran Dari Workshop Tadi..

Assalamu'alaykum.. Lama tak mencoba mengetik disini, di blogku yang tak terurus ini. hehehe. Saya mau bercerita tentang kegiatan hari ini. Sekitar jam 9 pagi tadi, saya mengikuti Workshop Nulis Bareng Gazamedia di salah satu bursa penerbit buku. Walaupun tapi sempet tersesat sama temenku, Damar. hahaha

Langsung saja yah, coba kuingat-ingat. mmmhh, sebelum menulis pertama adalah How to Get? Cara bagaimana kita memulai menulis, bagaimana kita mencari ide dan tema dalam penulisan sebuah karya. Banyak cara dalam mencari ide, mulai dari kejadian unik yang kita alami dalam sehari ini, membaca buku, dan silaturahmi. Selanjutnya adalah How to Develop. Bagaimana cara kita mengembangkan ide gagasan kita, menjadi sebuah karangan atau bagian-bagian yang kecil. Membuat kerangka tersebut menjadi lebih rinci dan detail. Selanjutnya adalah How To Transform, Bagaimana cara kita mangemas, menyampaikan dan mengarahkan gagasan kita kepada masyarakat luas. Hal yang harus diperhatikan adalah 5C, yaitu Content, Context, Community dan Costumer.. oke, untuk masing-masing pembahasan kelimanya kita lenjutkan besok saja yah? sudah ngantuk, hehehe.. Wassalamu'alaykum..
Share:

Akankah Amalku Di Terima ?

Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.



Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.


Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata’ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?


Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)


Sumpah Allah Subhanahuwata’ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata’ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.


Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.


Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan


Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.


Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.


Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.


Allah berfirman di dalam Al Qur’an:

“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)


Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”


Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)


Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.


Amal

Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:

“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)


Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”


Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169


Allah berfirman:

“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)


Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba- lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”


Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

“Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)


Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170

Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:


“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)


Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?


Syarat Diterima Amal

Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata’ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:

Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata’ala.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman;

Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)


Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)


Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala.


Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda:

“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)


Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara- perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah r ) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.

Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.

Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.

Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)


Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396

Allah Subhanahuwata’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.

Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah – Muhammadarrasulullah.

Wallahu a’lam.

Sumber : http://artikelislam.wordpress.com/2007/02/06/akankah-amalku-di-terima/#more-83
Share: